Jelang Hari AIDS Sedunia, PBB Beri Peringatan Bahaya Stigma Dan Diskriminasi Bagi Penderita
Shutterstock
Dunia
Hari AIDS Sedunia

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan sejumlah peringatan menjelang Hari AIDS sedunia dengan menyoroti dampak stigma dan diskriminasi bagi penderita.

WowKeren - Hari AIDS sedunia selalu diperingati setiap tanggal 1 Desember yang jatuh pada Selasa (1/12) besok di tahun ini. Jelang hari AIDS sedunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan peringatan terkait dampak stigma dan diskriminasi kepada para penderita HIV/AIDS.

Peringatan ini disampaikan oleh salah satu program PBB yang fokus menangani masalah HIV dan AIDS, yakni UNAIDS. PBB menyebut jika stigma dan diskriminasi terhadap orang-orang yang terdampak turut mendorong krisis AIDS hingga COVID-19.

UNAIDS menyebut masalah HIV/AIDS di tengah penyebaran virus corona sebagai “pandemi ganda”. Oleh sebab itu, mereka mendorong agar masalah tersebut harus segera ditangani dan diakhiri oleh para pejabat di setiap negara.

Melalui laporan yang dirilis sebelum Hari AIDS Sedunia, UNAIDS meminta pemerintah untuk menempatkan penderita HIV/AIDS sebagai prioritas dalam menanggapi pandemi. Penderita HIV/AIDS dinilai menjadi pihak yang paling rentan di tengah pandemi COVID-19.


Dilansir dari VOA, HIV/AIDS sudah muncul di dunia hampir 40 tahun lalu. Hingga sekarang, penyakit AIDS masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat dunia yang cukup tinggi. Padahal, kemajuan dan pengobatan penyakit ini sendiri telah banyak dilakukan.

Namun, hal tersebut masih tidak mampu menghentikan infeksi HIV/AIDS yang masih belum bisa disembuhkan. Situasi ini dibuktikan dari laporan UNAIDS pada 2019 lalu, dimana sebanyak 1,7 juta orang terjangkit HIV dan 690 ribu orang meninggal dunia.

Data tersebut membuat tanggapan dunia untuk mengakhiri AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada 2030 semakin sulit, bahkan sebelum pandemi virus corona melanda. Hal ini diungkapkan oleh pejabat kesehatan UNAIDS.

Kini, UNAIDS pun mulai meluncurkan strategi baru dalam mengatasi ancaman kesehatan akibat HIV/AIDS. Salah satunya adalah dengan mengarahkan dana untuk orang-orang yang paling berisiko.

Walau begitu, rencana itu dinilai tidak efektif oleh Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Kerja Sama Pembangunan Belanda, Sigrid Kaag. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Belanda, ia menemukan hanya dua persen dari pendanaan AIDS di seluruh dunia diberikan untuk mereka yang paling berisiko. “Enam puluh dua persen dari infeksi HIV baru terjadi di antara laki-laki gay, pekerja seks, pengguna narkoba dan transgender,” jelas Kaag.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts