Hari AIDS Sedunia, Kemenkes RI Berupaya Hapus Stigma dan Diskriminasi Lewat Program Ini
Nasional
Hari AIDS Sedunia

Kemenkes RI sendiri telah melakukan tes khususnya untuk HIV, Sifilis, dan Hepatitis kepada dua juta lebih ibu hamil pada 2019 lalu. Namun jumlah tersebut menurun pada tahun ini karena terkendala COVID-19.

WowKeren - Peringatan Hari HIV/AIDS Sedunia jatuh pada Selasa (1/12) hari ini. Di Indonesia, estimasi orang dengan HIV/AIDS di Indonesia pada awal tahun 2012 mencapai sekitar 630 ribu jiwa. Angka tersebut kemudian menurun menjadi 543 ribu di tahun 2018.

"Jadi ini merupakan kerja bersama kita dan kerja semua. Tidak bisa hanya oleh sektor kesehatan saja, di berbagai lintas sektor dan lintas program ikut terlibat," terang Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, dilansir situs resmi Kemenkes, Senin (30/11). "Dari mulai upaya pencegahan sejak tentunya remaja, bagaimana mengubah perilaku beresiko seksual, ataupun bagaimana pengobatan dan sehingga seseorang yang terinfeksi HIV/AIDS tidak jatuh pada kondisi terpuruk dan tetap beraktivitas secara normal."

Kemenkes RI sendiri telah melakukan tes khususnya untuk HIV, Sifilis, dan Hepatitis kepada dua juta lebih ibu hamil pada 2019 lalu. Menurut Nadia, jumlah ibu hamil yang dites tahun ini baru mencapai 1,7 juta jiwa karena terkendala pandemi virus corona (COVID-19). Dari 1,7 juta ibu hamil yang sudah dites, kurang lebih 0,3 persen dinyatakan positif HIV/AIDS.

Komitmen ini bertujuan untuk mencegah ibu hamil yang positif HIV/AIDS menularkan virus kepada anaknya. Adapun langkah awal dalam mencegah anak yang dilahirkan terinfeksi HIV/AIDS adalah melalui program "Aku Bangga Aku Tahu". Program ini juga bertujuan untuk mengurangi stigma yang biasa dialami penderita HIV/AIDS.


"Terutama pada anak-anak ataupun bayi yang tadinya HIV/AIDS positif kemudian mengalami stigma dan diskriminasi di masyarakat," "Dengan Program Aku bangga Aku Tahu, untuk tahun ini kita berusaha mengurangi bahkan menghilangkan stigma dan diskriminasi."

Melalui program ini, Kemenkes mengajak semua orang untuk mengetahui status HIV/AIDS mereka. "Supaya memastikan pada saat nanti berkeluarga dan kemudian berencana untuk memiliki keturunan dipastikan sudah mengetahui status HIV/AIDS nya," jelas Nadia.

Sementara itu, Ketua PP Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi dr. Ari Kusuma J, Sp. OG, menjelaskan ada tiga ukuran untuk mengakhiri HIV/AIDS. Yang pertama adalah zero infeksi baru. Hal ini menargetkan sebanyak 90 persen orang dengan HIV/AIDS mengetahui statusnya.

Kemudian yang kedua adalah zero kematian akibat HIV/AIDS. Hal ini diukur dari 90 persen orang dengan HIV/AIDS diobati atau menjalani pengobatan ARV.

Lalu yang ketiga adalah zero diskriminasi, dimana 90 persen orang dengan HIV/AIDS tidak merasa terdiskriminasi. "Di sinilah pentingnya pendidikan seksual, memahami kesehatan reproduksi bagi remaja," pungkas Ari.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts