Kepala BNPT Ungkap Alasan Kelompok MIT Ali Kalora Lakukan Pembunuhan Sadis di Sigi
Instagram/boyrafliamar
Nasional

Komjen Pol Boy Rafli Amar membeberkan alasan di balik aksi teror keji nan berdarah yang dilakukan kelompok MIT pimpinan Ali Kalora di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

WowKeren - Di tengah pandemi COVID-19 yang masih melanda Indonesia, sebuah teror meresahkan terjadi di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Aksi kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora disebut menjadi dalang di balik aksi keji nan berdarah yang menewaskan sejumlah orang itu.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ikut terjun menyelidiki kasus tersebut. Dan kekinian BNPT berhasil menguak alasan di balik aksi pembunuhan satu keluarga oleh kelompok Ali Kalora itu yang ternyata berkaitan dengan masalah logistik.

"Saat ini mereka sudah dalam kondisi yang tidak memiliki logistik yang cukup," kata Kepala BNPT, Komjen Pol Boy Rafli Amar, Selasa (1/12). "Artinya dengan cara inilah, dengan cara merampok, dengan cara membunuh masyarakat, karena kita tahu bahwa kelompok ini adalah pengusung ideologi kekerasan. Jadi itulah salah satu untuk bertahan hidup."


Lebih lanjut dijelaskan, kelompok teroris ini biasanya bertahan hidup di lereng-lereng Pegunungan Biru, Kabupaten Poso. Namun karena logistik yang kian menipis, mereka pun mulai mengincar harta benda milik warga di pemukiman sekitar lereng pegunungan tersebut.

Salah satu pemukiman warga yang pernah menjadi sasaran perampasan adalah Dusun Taman Jeka, sebuah wilayah yang terletak di Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso. Selain perampasan harta benda, kelompok ini juga acap kali melakukan tindak pidana pembunuhan terhadap warga di lereng Pegunungan Biru.

MIT pun kian terdesak karena warga Kabupaten Poso dan sekitarnya sudah tak lagi memberi simpati dan dukungan terhadap eksistensi mereka. Hal itu yang kemudian membuat persediaan logistik mereka kian berkurang dan memicu aksi keji berdarah tersebut.

"Jadi hari ini cara bertahan mereka untuk hidup di lereng-lereng Pegunungan Biru antara lain dengan mencari logistik, dengan merampok mengambil harta benda masyarakat," tutur Boy Rafli, dilansir dari Kompas. "Jadi inilah yang terjadi sekaligus kita memang menunjukan mereka masih eksis dan inilah yang menjadi tantangan kita untuk melumpuhkan mereka dalam beberapa waktu ke depan."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts