Libur Akhir Tahun Resmi Dipangkas, Ini Kata Pengusaha Hotel-Restoran
Rawpixel/Jira
Nasional
Efek Corona untuk Pariwisata

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) memberi respon terkait keputusan pemerintah yang memangkas libur cuti bersama Natal dan Tahun Baru sebanyak 3 hari.

WowKeren - Pemerintah akhirnya mengumumkan jumlah pasti berapa lama libur akhir tahun. Liburan cuti bersama yang beriringan dengan libur Natal dan tahun baru sedianya berjumlah 11 hari.

Namun, pemerintah memutuskan untuk memangkasnya sebanyak 3 hari. Menanggapi keputusan ini Wakil Sekretaris Jendral Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengaku kecewa.

Menurutnya, keputusan tersebut berpengaruh besar terhadap kepercayaan publik terhadap pemerintah (public trust). Pasalnya, momen libur panjang telah dijanjikan sejak sebelum lebaran.

Kala itu, Jokowi memangkas cuti bersama lebaran untuk menahan mudik. Momen libur panjang kemudian dijanjikan pada momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) di akhir tahun namun kini janji itu tak ditepai.

Tak hanya pengusaha hotel dan restoran, ia menilai keputusan juga berdampak bagi masyarakat yang sudah melakukan reservasi dari jauh-jauh hari. "Kecewa sudah pasti, karena ini urusan public trust. Ini rencana yang dikumandangkan sejak Lebaran, dijanjikan sejak lebaran. Yang kecewa bukan hanya pelaku pariwisata tapi masyarakat yang berkegiatan juga," kata Maulana dilansir CNNIndonesia, Rabu (2/12).


Padahal, PHRI telah menantikan momen liburan panjang yang semula dijadwalkan dari 24 Desember 2020-3 Januari 2021 atau 11 hari berturut-turut. Berdasarkan periode libur cuti bersama lalu, ia bilang rata-rata okupansi hotel per hari bisa naik sekitar 20 persen.

Artinya, pada libur akhir tahun ini, pengusaha harus merelakan kehilangan potensi kenaikan okupansi selama tiga hari berturut-turut. "Otomatis di situ yang dimaksud 3 hari okupansi bisa turun, seberapa besar turunnya belum bisa diprediksi karena susah kami prediksi memastikan turun naik sekarang," ujarnya.

Pun awalnya berharap banyak, ia mengaku hanya dapat menerima setelah keputusan pemangkasan itu diambil pemerintah. Pelaku usaha pariwisata sudah menyampaikan apa yang diharapkan kepada pemerintah.

"Dari sektor pariwisata harapannya orang berlibur, hanya itu saja," jelasnya. "Kalau enggak ada liburnya kan juga enggak gerak. Buktinya kalau enggak liburan (okupansi) flat di 20-30 persen."

Respon berbeda rupanya disampaikan oleh Ketua Harian PHRI Banten Ashok Kumar yang menyambut positif keputusan Jokowi ini. Ia menilai keputusan diambil dengan prinsip hati-hati agar tidak terjadi ledakan kasus positif COVID-19 akibat liburan panjang.

Ashok tidak terlalu kecewa lantaran momen liburan akhir tahun bukan satu-satunya penggerak sektor hotel dan restoran. Toh, pemangkasan 3 hari tak akan dapat mengembalikan pendapatan pengusaha yang raib selama 10 bulan terakhir karena pandemi. "Kami menyambut baik kebijakan pemerintah, kalau memang sudah jadi keputusan akhir bersama mari coba terobosan karena hari libur lain bisa dihidupkan lagi," ujarnya.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts