Spesialis anastesi RS Dr Soetomo Surabaya, Dr Christrijogo Sumartono W, dr SpAn KAR, KIC membeberkan alasan Indonesia kemungkinan belum memasuki gelombang kedua COVID-19.
- Elvariza Opita
- Kamis, 31 Desember 2020 - 19:40 WIB
WowKeren - Dalam konteks wabah, biasanya terjadi dalam beberapa kali gelombang. Termasuk pula wabah virus Corona yang di internasional sudah terjadi sampai gelombang ketiga.
Namun tampaknya situasi itu tak terjadi di Indonesia. Seperti disampaikan Dr Christrijogo Sumartono W, dr SpAn KAR, KIC, gelombang satu dan dua kasus COVID-19 di Indonesia tak bisa dibedakan.
"Kalau di dunia kan pernah turun. Kasusnya pernah melandai, terus naik lagi. Sehingga hampir semua dunia menutup pintu penerbangan internasional selama dua minggu ini," kata Christrijogo, Kamis (31/12). "Sedangkan di Indonesia mungkin belum terdeteksi semuanya."
Lebih lanjut dijelaskan, fenomena wabah COVID-19 di Tanah Air sejauh ini nyaris tidak pernah melandai. Christrijogo sendiri mengaitkan kondisi ini dengan tracing yang belum lengkap dan menyeluruh.
"Sekarang kita berusaha melengkapi deteksi itu, tiba-tiba ada mutasi baru jadi tertutup," terangnya, dilansir dari Basra jaringan Kumparan. "Nggak kelihatan landainya, jadi naik lagi naik lagi."
Pada kesempatan yang sama, dokter spesialis anastesi RSUD Dr Soetomo Surabaya itu juga memberi keterangan soal perkembangan COVID-19 di Jawa Timur. Menurutnya dalam skala nasional memang menurun namun saat ini wabah malah meluas.
"Lumajang, Jember, Tulungagung, Kediri dulu kan rendah-rendah, sekarang luar biasa. Sumenep juga sepertinya hampir lockdown karena bupati, kepala dinas, semua kena," tuturnya. "Pondok pesantren juga ada yang kena. Kita tidak bisa membendung lagi karena disetiap kabupaten disibukkan dengan kasusnya yang meningkat."
Untuk situasi COVID-19 di Jatim, dijelaskan oleh Christrijogo adalah akibat adanya beberapa kasus yang ditutupi sejak awal. "Misal dulu jumlahnya sudah 11 tapi masih dibilang 1 atau 2 kasus," terangnya.
Karena itulah ia mendorong publik untuk lebih disiplin dalam mengikuti protokol kesehatan 3M. "Yang perlu diperjelas virus itu mati dengan sabun dan alkohol. Artinya protokol kesehatan 3M bukan hal yang usang, jadi harus selalu diingatkan," pungkasnya.
(wk/elva)