Ini Yang Bikin Tim SAR Kesulitan Cari CVR Sriwijaya Air
Twitter/SAR_NASIONAL
Nasional
Sriwijaya Air Hilang Kontak

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI (Purn) Bagus Puruhito mengungkapkan kendala yang dihadapi Tim SAR dalam pencarian cockpit voice recorder (CVR) atau perekam suara kokpit black box pesawat Sriwijaya Air.

WowKeren - Evakuasi pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh ke perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/1) lalu hingga kini masih berlanjut. Tim SAR hingga kini masih mencari cockpit voice recorder (CVR) atau perekam suara kokpit black box pesawat Sriwijaya Air.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI (Purn) Bagus Puruhito mengungkapkan kendala yang dihadapi Tim SAR dalam pencarian CVR tersebut. Adapun bagian luar CVR rupanya telah ditemukan oleh Tim SAR.

"Soal CVR saya sudah komunikasi dengan ketua KNKT maupun panglima armada yang di lokasi," tutur Bagus dalam jumpa pers pada Kamis (14/1) malam. "Informasi yang kami dapatkan baru casingnya, bungkus atau body protector dari CVR yang ketemu."

Meski demikian, beacon atau alat yang digunakan agar CVR terdeteksi sudah terlepas. Oleh sebab itu, Tim SAR kesulitan mencari keberadaan CVR di bawa air, terlebih air laut yang keruh juga membatasi jarak pandang para penyelam yang mencari alat tersebut.


"Permasalahan yang ada seperti kita ketahui bersama, beacon yang bisa membawa kita ke benda itu sudah lepas dari alat itu," terang Bagus. "Sehingga kita gunakan cara yang relatif lebih lama dan air di bawah permukaan cukup keruh."

Di sisi lain, Tim SAR sendiri telah berhasil mengevakuasi 239 kantong jenazah, 40 kantong serpihan pesawat kecil dan 33 potongan besar badan pesawat hingga hari ke-6 pencarian. Flight data record (FDR) black box Sriwijaya Air juga telah berhasil ditemukan pada Selasa (12/1) lalu.

Sebagai informasi, FDR memuat data-data penerbangan pesawat tersebut. Namun demikian, proses pengunduhan data FDR itu membutuhkan waktu cukup lama dan persiapan rumit.

Ketua Sub Komite IK Penerbangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Nurcahyo Utomo mengungkapkan bahwa pengunduhan data tersebut membutuhkan beberapa persiapan. Salah satunya adalah membersihkan dan memeriksa bagian luar FDR itu. Bukan perkara mudah, pembersihan FDR ini ternyata cukup rumit mengingat benda itu terendam di air garam selama beberapa hari.

Pembersihannya sendiri menggunakan air suling dan kemudian dilanjutkan menggunakan alkohol. Setelah itu FDR harus dikeringkan menggunakan alat khusus selama 8 jam lamanya.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts