WHO Minta Negara Kaya Berbagi Vaksin COVID-19 dengan Negara Kecil
Reuters
Dunia
Vaksin COVID-19

Saat ini, setidaknya ada 46 negara yang telah melakukan vaksinasi. Namun, WHO menyebut hanya satu dari 46 negara tersebut yang merupakan negara berpenghasilan rendah.

WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali meminta negara-negara kaya di seluruh dunia untuk berbagi vaksin corona dengan negara kecil demi menjembatani kesenjangan vaksin global.

"Ada populasi di luar sana yang menginginkan dan ada yang membutuhkan vaksin yang tidak mendapatkannya kecuali kita mulai berbagi," kata Direktur Program Urusan Darurat WHO, dokter Mike Ryan, dalam jumpa pers di Jenewa, sebagaimana dikutip dari CNN.

Dalam 36 hari terakhir sejak beberapa negara mulai melakukan vaksinasi, ada sekitar 28 juta dosis vaksin yang telah diberikan kepada publik. Saat ini, setidaknya ada 46 negara yang telah melakukan vaksinasi. Ryan menuturkan hanya satu dari 46 negara tersebut yang merupakan negara berpenghasilan rendah.

"Kita benar-benar harus melihat ini dari segi ekuitas," terang Ryan menambahkan.

Meski cukup banyak negara yang telah melakukan vaksinasi, Ryan menambahkan masih ada 5 juta kasus Covid-19 baru dengan 85 ribu kematian secara global selama sepekan terakhir. "Pada dasarnya semua wilayah selain Asia Tenggara menunjukkan peningkatan kasus corona," lanjut Ryan.


Sebelumnya, hal serupa juga telah diungkapkan oleh Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, ang mendesak negara-negara kaya untuk tidak serakah dalam membeli vaksin virus corona sehingga membuat negara kecil kesulitan mendapatkan pasokan.

"Negara kaya menguasai pasokan vaksin. Tidak ada negara yang dikecualikan dan bisa memotong antrean demi melakukan vaksinasi terhadap seluruh rakyat mereka, sementara penduduk negara lain belum mendapatkan vaksin," kata Tedros pada akhir pekan lalu.

Tedros juga mendesak supaya para perusahaan farmasi pembuat vaksin harus berhenti meneken perjanjian jual beli bilateral. Dia juga mengajak negara-negara yang mempunyai stok vaksin berlebih supaya segera memberikannya kepada lembaga pemerataan vaksin, COVAX.

Meski Tedros tidak menyebut secara rinci negara mana yang dia maksud, tetapi pernyataan itu disampaikan tidak lama setelah Uni Eropa meneken perjanjian pembelian vaksin corona dari Pfizer dan BioNTech sebanyak 300 juta dosis.

Sebagaimana diketahui, perjanjian penjualan itu membuat setengah dari jumlah produksi vaksin Pfizer-BioNTech pada 2021 dikuasai Uni Eropa.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts