Begini Analisis BMKG Soal Penyebab Curah Hujan Ekstrem di Jabodetabek
Unsplash/Lily Banse
Nasional
Fenomena Banjir 2021

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) lantas mengungkapkan bahwa kejadian hujan di Jabodetabek umumnya terjadi pada malam hingga menjelang pagi hari.

WowKeren - Wilayah Jabodetabek secara merata diguyur hujan dengan intensitas lebat dengan curah hujan ekstrem sejak 18 Februari 2021 lalu. Hal ini berimbas pada banjir di sejumlah titik.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) lantas mengungkapkan bahwa kejadian hujan di Jabodetabek umumnya terjadi pada malam hingga menjelang pagi hari. Menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, curah hujan ekstrem tersebut bisa terjadi di Jabodetabek karena beberapa hal.

"Beberapa faktor utama yang mengakibatkan kondisi ekstrem adalah, yang pertama pada tanggal 19 hingga 19 (Februari) tahun 2021 termonitor adanya aktivitas seruakan udara dari Asia yang cukup signifikan," terang Dwikorita dalam konferensi pers yang disiarkan di kanal YouTube BMKG pada Sabtu (20/2). "Mengakibatkan peningkatan awan hujan di wilayah Indoensai bagian barat."


Selain seruakan udara, aktivitas gangguan atmosfer juga dinilai mempengaruhi curah hujan ekstrem di Jabodetabek. Menurut Dwikorita, aktivitas gangguan atmosfer di zona ekuator yang sering disebut sebagai aktivitas crosswind equatorial.

"Gangguan atmosfer di zona ekuator ini mengakibatkan adanya perlambatan dan pertemuan angin. Ada pembelokan, pertemuan dan perlambatan angin dari arah utara," terang Dwikorita. "Ini kebetulan membeloknya melewati Jabodetabek. Saat membelok melambat, di situlah terjadi peningkatan pembentukan awan hujan yang akhirnya terkondensasi turun sebagian hujan dengan intensitas tinggi."

Kemudian faktor ketiga adalah adanya tingkat labilitas dan kebasahan udara di sebagian besar Pulau Jawa bagian barat yang cukup tinggi. Hal ini disebut Dwikorita meningkatkan potensi pembentukan awan-awan hujan di wilayah Jabodetabek.

"Dan yang terakhir, terpantaunya adanya daerah pusat teklanan rendah di Australia bagian utara yang membentuk pola konvergensi di sebagiaan Pulau Jawa," lanjut Dwikorita. "Jadi fenomena yang ada di Pulau Jawa ini, ada pertemuan-pertemuan angin itu ternyata juga dipengaruhi oleh terbentuknya daerah pusat tekanan rendah di Australia bagian utara yang membentuk pola konvergensi di sebagiaan Pulau Jawa dan berkontribusi juga dalam peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan di Pulau Jawa bagian barat, termasuk Jabodetabek."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts