Data Dipertanyakan, AstraZeneca Revisi Tingkat Keefektifan Vaksin Corona-nya Jadi 76 Persen
Unsplash/Markus Spiske
Dunia
Vaksin COVID-19

Sebelumnya, sebuah badan kesehatan AS menyebutkan bahwa perusahaan AstraZeneca kemungkinan telah menggunakan informasi yang sudah kedaluwarsa terkait keefektifan vaksin corona-nya.

WowKeren - Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional (NIAID) Amerika Serikat sempat meragukan data uji klinis vaksin virus corona (COVID-19) AstraZeneca. NIAID mengaku telah mendapat informasi dari dewan pemantau data independen yang bekerja dengan AstraZeneca pada uji coba AS bahwa perusahaan farmasi tersebut kemungkinan telah menggunakan informasi yang sudah kedaluwarsa terkait keefektifan vaksinnya.

Kekinian, pihak AstraZeneca merilis update data uji coba fase tiga vaksin corona-nya pada Rabu (24/3). Dalam data yang baru ini, AstraZeneca menyebut bahwa vaksinnya 76 persen efektif dalam melindungi dari kasus COVID-19 dengan gejala penyakit.

Angka tersebut sedikit lebih rendah dibanding data yang diungkap AstraZeneca pada Senin (22/3) lalu. Kala itu, AstraZeneca menyatakan bahwa vaksin corona-nya 79 persen efektif dalam mencegah kasus COVID-19 dengan gejala penyakit dan juga 100 persen efektif melawan penyakit parah dan rawat inap.


Sebelumnya, sejumlah pejabat kesehatan AS mengkritik AstraZeneca atas apa yang mereka klaim sebagai "cherry-picking" data. Hal itu disebut merupakan upaya perusahaan untuk membuat hasil uji klinis tampak lebih menguntungkan.

Kepala Penasihat Medis Gedung Putih sekaligus Direktur NIAID Dr. Anthony Fauci telah memperkirakan bahwa AstraZeneca kemungkinan akan mengeluarkan pernyataan yang dimodifikasi. Fauci menyebut kekhawatiran yang disampaikan oleh dewan pemantau data independen itu sebagai "kesalahan" dari pihak AstraZeneca, namun mengatakan bahwa vaksin corona itu "kemungkinan besar adalah vaksin yang baik".

"Ini adalah sesuatu yang bisa Anda sebut sebagai kesalahan sendiri karena pada faktanya ini (vaksin AstraZeneca) adalah vaksin yang sangat bagus," kata Fauci dalam tayangan "Good Morning America", Selasa (23/3). "Hal semacam ini ... benar-benar menimbulkan keraguan tentang vaksin dan mungkin berkontribusi pada keraguan. Itu tidak diperlukan."

Pihak AstraZeneca sendiri berencana untuk menyerahkan analisis utama vaksinnya ke Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk otorisasi penggunaan darurat di Negeri Paman Sam. Data tersebut rencananya akan diserahkan ke FDA sebelum pertengahan April 2021.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts