Korban Jiwa Banjir Bandang NTT 'Berkurang' Jadi 84 Warga, BNPB Ungkap Penyebab
Twitter/BNPB_Indonesia
Nasional
Fenomena Banjir 2021

BNPB terus memberikan perkembangan terkini soal penanganan bencana banjir bandang di NTT yang diakibatkan Siklon Tropis Seroja, termasuk jumlah korban meninggal.

WowKeren - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya merilis siaran pers soal jumlah korban meninggal bencana banjir bandang di Nusa Tenggara Timur sampai 128 orang. Namun data ini kemudian diverifikasi ulang dan dalam rilis pers terbaru disebutkan jumlah korban meninggalnya adalah 84 orang.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi (Pusdatinkom) BNPB Raditya Jati dalam konferensi pers virtual di kanal YouTube BNPB Indonesia. Rupanya dalam rilis pers sebelumnya terdapat kerancuan pendataan korban meninggal yang turut memasukkan para warga yang belum berhasil ditemukan.

"Siklon Seroja di NTT ini menyebabkan angin kencang, tanah longsor, banjir, dan banjir bandang di 11 kabupaten/kota," ujar Raditya, Selasa (6/4) sore. "Dari 11 kabupaten/kota yang terdampak ini, hasil dari pendataan kami saat ini adalah 84 jiwa meninggal dunia."

"Jadi kesepakatan kemarin adalah yang dinyatakan sudah meninggal dunia adalah yang telah ditemukan jenazahnya dan diverifikasi. Sekali lagi, ini data sangat dinamis," imbuh Raditya, mengutip kembali pernyataan Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo dalam rapat koordinasi pada Senin (5/4).


Korban Jiwa Banjir Bandang NTT \'Berkurang\' Jadi 84 Warga, BNPB Ungkap Penyebab

Pusdalops BNPB

Lebih rinci dijelaskan, 49 korban jiwa merupakan warga Kabupaten Flores Timur. Lalu sebanyak 16 korban jiwa di Kabupaten Lembata, 15 korban jiwa di Kabupaten Alor, 2 korban jiwa di Kabupaten Malaka, dan masing-masing 1 korban jiwa di Kota Kupang serta Ende.

Pendataan di Kabupaten Lembata inilah yang ternyata menyebabkan kerancuan. Sebab pada data terakhir disebutkan ada 67 korban meninggal dunia di Kabupaten Lembata, yang ternyata setelah diverifikasi sebanyak 51 di antaranya masih berstatus hilang alias belum ditemukan.

"Data terakhir 16 meninggal dunia di Kabupaten Lembata itu dulunya 51 di Kabupaten Lembata yang hilang masuk ke kategorisasi meninggal dunia," tutur Raditya. "Kalau data kemarin di Lembata 67 adalah penjumlahan dari 16 (meninggal dunia) dan 51 orang hilang di Lembata."

Di sisi lain, upaya evakuasi terus dilakukan untuk para korban terdampak banjir bandang tersebut. Posko-posko darurat dibangun, begitu pula dengan bantuan yang terus disalurkan oleh pemerintah. Pemerintah juga akan menyalurkan santunan bagi ahli waris korban jiwa dalam bencana ini.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts