Stok Vaksin COVID-19 Menipis, Akan Berdampak Ke Pemulihan Ekonomi Nasional?
Unsplash/Steven Cornfield
Nasional
Vaksin COVID-19

Menkes Budi Gunardi menyampaikan persediaan stok vaksin COVID-19 di Indonesia mulai menipis. Hal ini akan berpengaruh terhadap pelaksanaan vaksinasi massal, yang kemudian juga akan berdampak pada pemulihan ekonomi nasional.

WowKeren - Indonesia saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan vaksinasi COVID-19 agar segera mencapai herd immunity sehingga bisa menekan angka penyebarannya. Namun, belakangan tersiar kabar bahwa Indonesia akan mengalami hambatan dalam melaksanakan vaksinasi COVID-19.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa stok ketersediaan vaksin COVID-19 saat ini menipis. Suplai yang sebelumnya dijanjikan dari berbagai produsen belum juga datang. Bahkan sempat tersiar kabar yang menyebutkan barangnya batal untuk dikirim ke Indonesia.

Budi menerangkan rencana awal terkait persediaan stok vaksin COVID-19 pada Maret-April 2021 adalah sebesar 30 juta dosis. Tetapi, pada realisasinya hanya ada 20 juta dosis. "Sehingga laju vaksinasinya, mohon maaf seluruh teman-teman media, agak kita atur kembali sehingga kenaikan tidak secepat sebelumnya karena vaksinnya yang berkurang supply-nya," ujar Budi.

Sebelumnya, kekhawatiran itu telah disampaikan Budi saat ada beberapa negara produsen mengembargo vaksin COVID-19. Saat ini pihak Kemenkes sedang berusaha untuk negosiasi dengan negara produsen Vaksin COVID-19. "Kita sedang nego dengan negara produsen vaksin, mudah-mudahan Mei kembali normal dan kita lakukan vaksinasi dengan rencana sebelumnya," jelas Budi.


Selain untuk menekan angka penyebaran COVID-19, pemerintah menginginkan tercapainya herd immunity sebelum akhir tahun untuk mendorong percepatan mobilitas masyarakat menuju pemulihan ekonomi nasional. Tetapi adanya embargo vaksin COVID-19 tampaknya akan menjadi kesulitan tersendiri bagi pemerintah Indonesia.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo telah mengingatkan Indonesia akan berada pada kondisi yang berat bila ekonomi pada kuartal II tidak tumbuh mencapai 7 persen. Berat yang dimaksud adalah mengacu pada ancaman terhadap ekonomi Indonesia di tahun depan yakni taper tantrum. Taper tantrum sendiri merupakan kondisi krisis mini yang mampu mengobrak-abrik pasar keuangan dalam negeri.

Pemicu terjadinya taper tantrum adalah Amerika Serikat, dan saat ini indikasinya sudah terlihat yakni ekonomi AS akan tumbuh lebih kencang akibat kebijakan fiskal yang agresif. Hal itu akan diikuti dengan kenaikan inflasi dan kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed, dan saat itulah dana yang berputar di Indonesia menjadi kabur. "Makanya saya bilang pemulihan ekonomi Indonesia harus lebih cepat sebelum tapering di AS terjadi," ungkap Chatib Basri selaku Ekonom Senior kepada CNBC Indonesia.

Sebagai informasi, di tahun 2013, terjadi tape tantrum, rupiah seketika anjlok melewati Rp 10 ribu per dolar AS, kemudian sampai ke Rp 12 ribu. Harga impor kemudian melonjak, termasuk sembako seperti kedelai, beras, bawang, dan garam.

(wk/wahy)

You can share this post!

Related Posts