Perawat Korban Penganiayaan Trauma Sampai Ingin Berhenti, Ternyata Benar Lalai Saat Bekerja?
Instagram/perawat_peduli_palembang
Nasional

Istri JT (38), pelaku penganiayaan perawat RS Siloam Palembang menilai CRS (27) memang lalai dalam bekerja hingga menjadi cikal-bakal kasus ini. Lantas benarkah tudingan tersebut?

WowKeren - Penganiayaan yang dialami tentu membuat CRS (27), perawat RS Siloam Sriwijaya Palembang Sumatera Selatan begitu trauma. Bahkan Ketua DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Sumsel, Subhan Haikal, mengungkap CRS sempat berpikiran untuk berhenti bekerja saja.

"Sebelumnya trauma, selalu ngomong ingin berhenti jadi perawat. Senyum saja susah," kata Subhan, dilansir dari Kompas TV pada Selasa (20/4). Perihal trauma yang dialami oleh CRS ini sendiri sebelumnya juga sempat diungkap Direktur RS Siloam Sriwijaya Palembang, dr Bona Fernando.

Namun bersyukur CRS kini terus didampingi psikolog setempat dan dilaporkan sudah mulai membaik. Hanya saja CRS belum diizinkan kembali ke rumah.

"Sekarang alhamdulillah mendingan, sejak pendampingan dari dua orang psikolog di RS Siloam sudah mendingan," tutur Subhan. "Sudah bisa senyum dan berkomunikasi dengan baik."

Subhan juga memastikan proses hukum atas kasus ini terus berlanjut kendati sang pelaku, JT (38), sudah dimaafkan. "Kami juga meyakinkan korban untuk tetap begitu (melanjutkan proses hukum), karena ini termasuk harga diri," tegas Subhan.


Apalagi karena sosok CRS juga sempat dituding bersikap tidak profesional bahkan melakukan tindakan tak menyenangkan kepada keluarga pasien. Hal ini seperti diungkap Melisa, istri JT, yang menegaskan buruknya kinerja CRS yang menjadi cikal-bakal penganiayaan ini.

Sebagai pengingat, Melisa menyebut CRS bersikap tidak profesional sampai menyebabkan anaknya berdarah ketika jarum infus dilepas. "Ternyata benar kejadian kan. Sudah dia nyabutnya kasar, darah sampai kemana-mana di baju, lantai, kasur, eh malah saya disalahin. Saya nggak bohong, saya berani bersaksi nanti di pengadilan," tegas Melisa.

Lantas benarkah CRS sudah melakukan pekerjaan yang tidak sesuai standar operasional? Majelis Etik Keperawatan dan Komite Keperawatan menegaskan tidak ada pelanggaran kode etik yang dilakukan CRS.

"Hasil investigasi semuanya sudah keluar, hasilnya sudah sesuai SOP dan perawat tersebut sudah melaksanakan tugas dengan baik," ungkap Subhan, Senin (19/4). Ia menegaskan bahwa hasil investigasi itu bisa dipertanggungjawabkan jika diperlukan dalam proses hukum.

"Dan yang jelas saya meyakini RS Siloam tidak sembarang memilih orang bekerja di sana. Dengan kondisi ini saya meyakini bahwa kualitas perawat di sana cukup baik walaupun kita tidak bersaksi," imbuh Subhan. "Ya kesalahan dan kebenaran itu milik Tuhan, tapi dari investigasi semuanya sudah standar, SOP."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts