Bikin Novel Baswedan Terancam Dicopot, Soal 'Kapan Nikah dan Doa Qunut' di Tes ASN KPK Jadi Sorotan
Twitter/KPK_RI
Nasional
Polemik Tes ASN Pegawai KPK

Banyak pegawai KPK yang terancam dicopot karena tidak lolos dalam seleksi ASN, termasuk pula sang penyidik senior Novel Baswedan. Namun pertanyaan di seleksi itu disebut cukup 'nyeleneh'.

WowKeren - Belakangan beredar kabar nama-nama "besar" Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan dicopot. Termasuk di antaranya penyidik senior Novel Baswedan yang selama ini sudah dikenal sangat bertaji dalam mengawal kasus-kasus rasuah di Tanah Air.

Rupanya Novel Baswedan dan beberapa pegawai KPK ini terancam dicopot karena tidak lolos kala mengerjakan saat menjalani seleksi ASN. Namun belakangan seleksi ini menjadi sorotan karena terdapat pertanyaan-pertanyaan yang dianggap tidak sesuai tugas dan pokok fungsi pegawai KPK.

Menurut pengakuan seorang pegawai anonim KPK yang mengikuti tersebut, ada beberapa pertanyaan mencolok yang cukup nyeleneh. Seperti pertanyaan "Sudah umur segini, kok belum menikah?" atau "Salat subuhnya pakai (bacaan doa) qunut?" turut ditanyakan.

Tak pelak keberadaan soal-soal "aneh" ini menjadi buah bibir hingga mendapat tanggapan dari Badan Kepegawaian Negara (BKN). BKN yang memang berkaitan erat dengan seleksi ASN rupanya malah mengaku tidak tahu-menahu dengan dalih proses serta soal bersifat rahasia.


"Kalau itu informasi itu dari yang kemarin dites, berarti itu mungkin bener itu," kata Kepala Humas BKN, Paryono, Selasa (4/5). Menurut Paryono, yang mengetahui soal seleksi hanya yang menyiapkan dan para peserta.

"Kalau saya, malah enggak tahu sama sekali. Soalnya kan tertutup, yang tahu yang ngetes sama yang dites saja," tutur Paryono.

Selain itu, Paryono juga menegaskan bahwa soal tes ASN KPK bukan hanya disiapkan BKN secara tunggal. Penyediaan soal juga melibatkan sejumlah pihak seperti Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Pusat Intelijen TNI AD, Dinas Psikologi AD, hingga Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

"Ya keterlibatannya ya, dari beberapa instansi itulah yang memberikan penilaian terhadap pegawai KPK itu," ungkapnya terkait peran instansi-instansi yang disebutkan dalam seleksi ASN KPK. Sedangkan soal pertanyaan di seleksi, umumnya disusun dengan standar yang pasti.

Penilaian yang diberikan pun, menurut Paryono, disesuaikan dengan indikator yang jelas. "Tidak bisa setiap orang boleh lihat toh (pertanyaannya). Enggak (bisa diakses publik)," pungkasnya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts