Dianggap Tutup Mata Kekerasan Rohingya, London Cabut Penghargaan Kebebasan Aung San Suu Kyi
Dunia

Sejumlah lembaga internasional kecewa pada Aung San Suu Kyi karena dinilai diam terhadap aksi kekerasan yang dilakukan oleh militer Myanmar terhadap Muslim Rohingya.

WowKeren - Krisis kekerasan terhadap Muslim Rohingya di Myanmar cukup penyita perhatian dunia internasional. Aung San Suu Kyi, pemimpin Myanmar, dinilai telah tutup mata terhadap penyiksaan yang dilakukan militer Myanmar terhadap kaum minoritas muslim Rohingya.

Imbasnya, sejumlah penghargaan kebebasan yang pernah diberikan oleh dunia internasional kepadanya akhirnya dicabut. Salah satunya adalah penghargaan dari City of London.


Pemerintah Kota London akan menarik penghargaan kebebasan yang pernah diberikan pada Aung San Suu Kyi pada 2017 lalu. City of London mengecam pelanggaran HAM yang dilakukan di Myanmar. Mereka juga telah menyampaikan keprihatinan yang mendalam terkait kekerasan yang menimpa Muslim Rohingya di sana.

"City of London Corporation mengutuk pelanggaran kemanusiaan mengejutkan yang dilakukan di Myanmar," bunyi pernyataan City of London dilansir dari Anadola Agency pada Sabtu (12/1). "Dan telah menulis surat kepada Duta Besar untuk Myanmar untuk mengungkapkan keprihatinan yang mendalam tentang situasi saat ini di sana."

Pihaknya mengatakan akan menyurati Aung San Suu Kyi terkait keputusan tersebut. Mereka akan meminta tanggapan pemimpin Myanmar itu sebelum membuat keputusan akhir.

Langkah pencabutan penghargaan yang dilakukan oleh pemeirntah kota London mengikuti jejak Amnesty Internasional sebelumnya. Pihak Amnesty Internasional mengaku kecewa kepada Suu Kyi yang dinilai bersikap diam terhadap penindasan yang dilakukan oleh militer Myanmar. Akibatnya, ratusan ribu Muslim Rohingya harus kabur ke Bangladesh untuk mencari pertolongan.

Amnesty Internasional mencabut penghargaan delapan tahun sejak diberikan. Hal ini bertepatan dengan bebasnya Suu Kyi sebagai tahanan rumah pada 2009 lalu.

Sejak Suu Kyi menjadi pemimpin de facto pemerintahan sipil Myanmar pada 2016 lalu, ia terus mendapatkan tekanan internasional untuk mengecam aksi kekerasan terhadap Muslim Rohingya. Namun, ia terus menolaknya.

Bahkan, ia menyebut laporan PBB yang menyatakan bahwa terjadi upaya pembantaian terhadap Rohinya sebagai sesuatu yang berlebihan.

"Saya pikir tidak sedang terjadi upaya pembersihan etnis," kata Suu Kyi pada BBC dilansir The Guardian pada Sabtu (12/1). "Pernyataan pembersihan etnik terlalu kuat untuk menggambarkan apa yang terjadi."

You can share this post!

Related Posts