Pasien 01 dan 02 Corona Dipulangkan, Ungkap Pesan Penting Untuk Masyarakat
https://www.kemkes.go.id/
Nasional
Wabah Virus Corona

Sampai Senin (16/3) kemarin, Indonesia sudah mengonfirmasi 134 kasus positif COVID-19. Dari ratusan kasus itu, beberapa diantaranya kini sudah dinyatakan sembuh.

WowKeren - Indonesia telah mengonfirmasi sebanyak 134 kasus positif COVID-19 hingga Senin (16/3) kemarin. Dari 134 kasus itu, beberapa diantaranya telah dinyatakan sembuh dan dipulangkan. Termasuk diantaranya adalah pasangan anak dan ibu yang diberi label pasien kasus 01-02.

Sebagai pengingat, pasangan anak dan ibu ini menjadi dua kasus positif COVID-19 pertama yang dikonfirmasi langsung oleh Presiden Joko Widodo. Kala itu terungkap keduanya tertular dari seorang WN Jepang ketika sedang beracara di Menteng, Jakarta Pusat.

Usai sembuh, keduanya bersama pasien kasus 03 diberi kesempatan untuk muncul di hadapan publik. Saat itulah satu pesan penting disampaikan oleh pasien kasus 02 kepada masyarakat, yakni harapan permintaan agar para warga menerima pasien yang sudah sembuh dari COVID-19.

Ia pun mengimbau agar para warga, khususnya di Depok mengingat kediamannya berada di kota tersebut, untuk tidak panik. Sebab kepanikan justru akan membuat kekebalan tubuh menurun dan berdampak buruk pagi perkembangan virus Corona.

"Warga Depok, please jangan panik," ujarnya di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta, Senin (16/3). "Kami semua ini harus tetap bahagia, senang untuk menumbuhkan imun di dalam tubuh. Ini pesan untuk seluruh Indonesia."


"Ketika kita panik, imun tubuh kita pasti turun," imbuhnya, seperti dilansir dari CNN Indonesia. "Jangan panik, kita ada Gusti Allah."

Kendati demikian, ia mengaku bersyukur lantaran warga di sekitar kediamannya bisa menerima dengan tangan terbuka meski keluarganya pernah terinfeksi Corona. "Semua penduduk sangat kondusif menerima dan mengatasi semuanya, dan kami bersyukur," katanya.

Pada kesempatan yang sama, pasien kasus 01 ikut mengungkapkan kritikannya ketika dalam masa perawatan. Menurutnya Indonesia dalam kondisi darurat privasi karena menyebarkan informasi soal keluarga dan profesinya. Bahkan acapkali informasi tersebut dibumbui dengan berita tidak benar.

"Untuk orang-orang di luar jangan menghakimi pasien COVID-19 dengan berbagai stigma. Kami jadi korban dua kali. Selama diisolasi selama seminggu saya nangis terus," keluh sang pasien.

Ia menyayangkan stigma yang berkembang di masyarakat. Padahal infeksi virus Corona ini tak memandang bulu. "Tidak memilih ras, agama, profesi apapun dan bisa menular ke siapapun," pungkasnya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts