Langgar PSBB, Pedagang Tanah Abang Kelabui Satpol PP Dengan Cara Ini
Nasional
PSBB Corona

Nekat berdagang dan melanggar aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) semasa pandemi virus corona, pegagang Tanah Abang bongkar cara kelabui Satpol PP.

WowKeren - Pemerintah Indonesia telah menerapkan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah, salah satunya adalah DKI Jakarta. Namun seolah tak mempedulikan aturan PSBB, sejumlah pedagang kaki lima (PKL) dan kios di Tanah Abang, Jakarta Pusat terlihat kembali berdagang lagi di tengah pandemi virus corona (COVID-19).

Tak jarang, pedagang sering kucing-kucingan dengan Satpol PP demi menghindari ancaman terkena razia atau sanksi lantaran melanggar PSBB. Pedagang pun saat ini tidak hanya fokus berjualan saja, tetapi juga harus waspada mengawasi lapak mereka dari sergapan petugas Satpol PP.


Pedagang lantas membongkar cara mereka untuk mengelabui Satpol PP. Hal ini dilakukan dengan siasat buka tutup. Jika Satpol PP datang, mereka akan langsung menutup lapak mereka. Setelah Satpol PP pergi, para pedagang akan mulai membuka lapak mereka lagi.

Seorang pedagang bernama Mizi mengatakan jika ia melakukan hal tersebut setiap harinya. Pedagang asal Petamburan, Jakarta Barat ini harus buka tutup lapaknya sampai tiga kali untuk menghindari razia dari aparat Satpol PP.

Mizi mengatakan jika petugas Satpol PP kini semakin ketat dalam mengawasi pedagang di Tanah Abang selama masa PSBB tahap 2 DKI Jakarta. Ia pun mengaku takut jika terkena razia. “Khawatir lah (jika di razia)”, ungkap Mizi seperti dilansir CNNIndonesia, Selasa (19/5).

Sejajuh ini, petugas Satpol PP selalu mendatangi area pasar sekitar pukul 10.00 hingga lewat 12.00 WIB. Mizi mengaku beruntung lantaran sejauh ini, petugas tak sampai memaksa tutup lapaknya. Meski ia tahu ada larangan berjualan, Mizi mengaku akan tetap membuka lapaknya hingga malam takbiran nanti.

Hal tersebut terpaksa ia lakukan demi mendapatkan pemasukan di tahun ini. Mizi mengungkap jika keuntungannya tahun ini telah merosot tajam hingga 50 persen. “Kalau kemarin mah, sebulan mau puasa sudah pegang untung. Sekarang belum keliatan,” keluh Mizi.

Hal serupa diungkapkan pedagang lain, Rudy. Ia mengatakan dirinya tidak bisa makan jika tidak nekat berjualan. “Kalau enggak dagang kita enggak makan dong. Memang pemerintah mau memperhatikan rakyatnya?” tanya Rudy.

Saat memutuskan membuka lapaknya, pedagang Tanah Abang memang harus menerima konsekuensi. Mereka beruntung jika hanya mendapat sanksi teguran saja. Namun, mereka juga meski menghadapi sanksi terberat yaitu sampai disegel.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts