Corona Tak Berhenti Siksa Pria Ini Selama 6 Bulan, Tetap Rasakan Nyeri Dada sampai Migrain Parah
Getty Images
Health
Pandemi Virus Corona

Charlie Russell (27) harus merasakan beragam gejala klinis menyiksa sebagai dampak dari infeksi virus Corona. Padahal penyakit itu sudah dialami sejak 6 bulan silam.

WowKeren - Kemampuan virus Corona untuk menimbulkan kerusakan permanen di dalam tubuh penyintasnya memang bukan hal baru lagi. Banyak tenaga medis yang menyebut virus SARS-CoV-2 berpotensi menyebabkan paru-paru penyintasnya rusak permanen sehingga harus hidup dalam kondisi tidak pulih seratus persen.

Hal itulah yang dialami oleh seorang pasien COVID-19 berusia 27 tahun bernama Charlie Russell. Russell dilaporkan masih belum pulih setelah terinfeksi COVID-19 sejak enam bulan lalu. Situasi ini membuat Russell menjadi salah satu dari 600 ribu orang yang mengalami efek jangka panjang virus Corona.

Russell diketahui terinfeksi virus SARS-CoV-2 pertama kali pada Maret 2020. Dan sampai hari ke-182 sejak itu, Russell mengaku belum bisa menjalani "kehidupan normal" seperti berlari pagi atau bahkan bekerja.

"Jika saya tahu bahwa saya akan sesakit ini, saya akan menganggap semuanya (tentang virus) jauh lebih serius di bulan Maret," ungkap Russell. Ia mengaku sedikit melonggarkan kewaspadaan atas virus Corona karena masyarakat berusia muda sepertinya disebut-sebut hanya akan sakit selama beberapa pekan saja.

"Tetapi semua yang kami dengar saat itu adalah jika kamu terinfeksi dan kamu masih muda, kemungkinan besar tidak memiliki gejala sama sekali. Atau hanya akan sakit selama beberapa minggu saja," imbuhnya, dilansir dari The Guardian, Senin (14/9).


Namun semua hanya teori semata lantaran sampai 6 bulan setelah ia terinfeksi pun Russell masih merasakan sejumlah gejala klinis. Seperti misalnya nyeri dada, migrain yang menyiksa, sesak napas yang parah, pusing, hingga kelelahan.

Terkait dengan nyeri dada yang dirasakannya, Russell bahkan menggambarkannya dengan cukup ekstrem. "Rasanya seperti seseorang sedang duduk di atas saya," terangnya.

Penyakit ini pun membuatnya tak lagi bisa bekerja sebagai fotografer khusus drama atau teater seperti sebelum dinyatakan positif COVID-19. Dan dengan segala perjuangannya selama satu semester ke belakang, Russell pun mengaku khawatir dengan banyaknya kaum muda yang menganggap remeh wabah COVID-19.

"Saat orang menolak untuk memakai masker atau bahkan untuk mematuhi aturan jarak sosial, itu sangat, sangat, sangat membuat frustrasi," tegas Russell. "Saya hanya ingin menyadarkan mereka dan berkata 'saya sudah hidup dengan ini (virus) selama enam bulan'."

"Saya rasa banyak anak muda berpikir jika virus ini tidak mempengaruhi dirinya secara langsung, hampir tidak sama sekali. Teman-teman saya masih pergi ke klub, pergi makan malam, dan tidak menganggapnya serius. Saya mengkhawatirkan mereka," pungkasnya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts