Ternyata Ini Kaitan Suhu dan Penularan Virus Corona, Musim Panas Benar Lebih Aman?
Pixabay/Daniel Roberts
Health
Pandemi Virus Corona

Peneliti kembali mendapatkan bukti ilmiah bahwa suhu yang lebih dingin dengan kelembaban rendah memengaruhi penularan COVID-19. Begini penjelasan selengkapnya.

WowKeren - Masih banyak misteri yang menyelubungi COVID-19 yang kini tengah mewabah di berbagai belahan dunia. Salah satu yang kerap menjadi bahan perdebatan adalah soal adakah kaitan antara transmisi virus Corona dengan suhu?

Baru-baru ini peneliti kembali menemukan keterkaitan antara kedua variabel. Penelitian didasarkan pada fakta bahwa SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19 masih merupakan bagian dari keluarga besar virus Corona, yang dikarakterisasi sebagai virus yang lebih mudah menular di bulan-bulan dingin dan tak terlalu lembab.

Peneliti dari University of Louisvilleā€™s Christina Lee Brown Envirome Institute, the Johns Hopkins University School of Medicine, dan the U.S. Department of Defense Joint Artificial Intelligence Center pun menggelar riset gabungan soal ini. Mereka membandingkan kasus COVID-19 di 50 negara di belahan bumi utara antara 22 Januari sampai 6 April 2020.

Dan hasilnya, peningkatan suhu hingga 1 derajat Fahrenheit saja bisa mengurangi 1 persen kasus COVID-19. Sedangkan jika suhunya menurun 1 derajat saja, kasus COVID-19 bisa meningkat sampai 3,7 persen.


"Walau COVID-19 adalah penyakit menular yang penularannya tak dipengaruhi suhu, penelitian kami mengindikasikan adanya komponen musiman," ujar peneliti Brown Envirome Institute, Aruni Bhatnagar. Namun tentu saja efek dari suhu ini juga dipengaruhi oleh intervensi lain seperti menjaga jarak sosial hingga mobilitas warga.

"Hasil penelitian menunjukkan bulan-bulan musim panas terkait dengan penurunan laju penularan COVID-19. Sejalan dengan karakter virus penyakit pernapasan musiman," demikian kesimpulan yang disampaikan peneliti, seperti dikutip dari jurnal yang dipublikasikan di PLOS ONE, 17 Februari 2021.

Temuan ini pun diharapkan dapat menjadi acuan untuk menentukan kebijakan terutama jika sebuah wilayah hendak menghadapi penurunan suhu akibat perubahan musim. Meskipun demikian, peneliti menegaskan bahwa hasil riset ini harus diimbangi dengan berbagai intervensi lain seperti rajin mematuhi protokol kesehatan. Hal ini terbukti dari tingkat penularan virus Corona saat musim panas di Amerika Serikat yang tetap tinggi.

Hasil riset ini juga sejalan dengan yang pernah dipublikasikan Paulo Mecenas et al pada 18 September 2020 tahun lalu. "Berdasarkan bukti ilmiah, iklim hangat dan basah mampu mengurangi penularan COVID-19. Namun variabel ini sendiri tidak bisa menjelaskan soal keberagaman transmisi penyakit. Karena itulah negara harus fokus pada kebijakan kesehatannya," demikian kesimpulan hasil penelitian tersebut.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts