Moeldoko Buka Suara Soal Gaduh KLB Demokrat, Akui Khilaf Hingga Tak Ingin Bebani Jokowi
Instagram/dr_moeldoko
Nasional
Isu Kudeta Partai Demokrat

KSP Moeldoko akhirnya buka suara usai heboh KLB Deli Serdang yang diklaim ilegal namun telah menetapkannya sebagai Ketum Demokrat yang baru. Begini klarifikasi Moeldoko selengkapnya.

WowKeren - Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko diketahui telah ditetapkan sebagai Ketua Umum Partai Demokorat versi Kongres Luar Biasa Deli Serdang, Sumatera Utara. Sejak ditetapkan sebagai ketum, Moeldoko malah seolah menarik diri dan tak memberi keterangan apapun kepada publik meski konflik antara 2 kubu Demokrat semakin meruncing.

Dan kini akhirnya Moeldoko angkat bicara juga soal upaya kudeta tersebut. Dalam keterangannya, Moeldoko pun mengungkit perihal kekhilafannya sampai ketidakinginannya membebani Presiden Joko Widodo.

"Saya orang yang didaulat untuk memimpin Demokrat. Kekisruhan sudah terjadi, arah demokrasi sudah bergeser di dalam tubuh Demokrat," ujar Moeldoko di Instagram-nya, Minggu (28/3), menjelaskan mengapa ia kemudian nekat menerima pinangan Demokrat untuk menjadi ketum.

"Terjadi pertarungan ideologis yang kuat menjelang 2024. Pertarungan ini terstruktur dan gampang dikenali," imbuhnya. "Ini menjadi ancaman bagi cita-cita menuju Indonesia Emas 2045."


Pertarungan ideologis ini, dituturkan Moeldoko, bukan hanya mengganggu partai itu sendiri tetapi juga cita-cita bangsa. "Ini bukan sekedar menyelamatkan Demokrat, tapi juga menyelamatkan bangsa. Itu semua berujung pada keputusan saya menerima permintaan untuk memimpin Demokrat, setelah tiga pertanyaan yang saya ajukan kepada peserta KLB," katanya, dilansir pada Senin (29/3).

Moeldoko menegaskan bahwa keputusannya ini merupakan otoritas pribadi dan tidak ada sangkut pautnya dengan Presiden Jokowi. Mantan Panglima TNI itu juga mengaku khilaf lantaran tidak memberitahu soal rencananya naik ke tampuk kepemimpinan tertinggi Partai Demokrat kepada pihak keluarga.

"Terhadap persoalan yang saya yakini benar dan itu atas otoritas pribadi yang saya miliki, maka saya tidak mau membebani Presiden," papar Moeldoko. "Saya juga khilaf, tidak memberitahu kepada istri dan keluarga."

"Saya terbiasa mengambil risiko seperti ini, demi kepentingan bangsa dan negara. Untuk itu, jangan bawa-bawa Presiden untuk persolan ini," pungkasnya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts