Citigroup 'Cabut' dari Bisnis Ritel di RI, Kartu Kredit Citibank Bakal Ditarik?
commons.wikimedia.org/Pyunfscheum
Nasional

Citigroup memutuskan tak lagi berbisnis ritel di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Lantas bagaimana nasib para pemegang kartu kredit Citi yang kebanyakan adalah perusahaan besar?

WowKeren - Citigroup Inc. memutuskan untuk keluar dari bisnis consumer banking atau nasabah retail di beberapa negara. Salah satu yang terkena dampak kebijakan ini adalah Indonesia, yang kemudian memicu pertanyaan soal nasib para pemegang kartu kredit Citi.

Tentu saja dengan berhentinya layanan nasabah retail Citigroup di Indonesia memicu kekhawatiran layanan kartu kredit juga akan disetop. Kendati demikian, CEO Citi Indonesia Batara Sianturi memastikan bahwa layanan kartu kredit Citi Indonesia tidak akan ditutup, setidaknya dalam waktu dekat.

Menurut Batara, perseroan belum bisa memastikan waktu penutupan bisnis ini karena proses yang tak sederhana. Bank juga memerlukan persetujuan dari regulator dan masih menunggu kebijakan komprehensif dari kantor pusat untuk tindakan lebih lanjut.

Karena itulah, Batara memastikan pemegang kartu kredit Citi Indonesia tetap bisa menggunakan layanan secara normal sampai ada keterangan lebih lanjut. Jangka waktu keputusan ini pun, tutur Batara, bisa datang dalam hitungan bulan atau tahun.


"Tidak ada perubahan seketika pada cara Citi melayani para nasabah perbankan ritel," ujar Batara sebagaimana dikutip dari Katadata.co.id, Jumat (16/4). "Maupun kartu kredit di Indonesia sebagai hasil dari pengumuman ini."

Operasional bank saat ini pun dipastikan berjalan seperti biasa. Citi juga terus berkomitmen memastikan nasabah mendapat layanan seperti biasa, ditambah dengan fokus perusahaan untuk fokus pada bisnis perbankan institusional.

Apalagi karena bank saat ini sudah melayani 90 persen dari 20 perusahaan terbesar Indonesia. "Pada tahun lalu kami mengumpulkan dana sebesar lebih dari USD10 miliar untuk para klien kami di Indonesia," ujar Batara.

Kabar hengkangnya Citigroup dari bisnis ritel Indonesia ini memang mengejutkan sejumlah pihak karena terjadi secara cukup tiba-tiba. Menanggapi penutupan bisnisnya, Direktur Research Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengaitkannya dengan kehadiran perusahaan financial technology (fintech).

"Bank-bank tentunya sudah menyadari ini," tutur Piter. "Oleh karena itu, pilihannya fight dengan konsekuensi memperkuat layanan digital atau keluar dari persaingan."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts