'Wujudkan' Teori Konspirasi, AS Rencana Tanam Microchip demi Deteksi COVID-19 Dalam Hitungan Menit
Pixabay
Dunia
Pandemi Virus Corona

DARPA, unit riset di Pentagon Amerika Serikat tengah mengembangkan microchip yang bisa ditanamkan pada tubuh untuk mendeteksi COVID-19. Seperti apa?

WowKeren - Salah satu teori konspirasi wabah COVID-19 yang banyak dibahas adalah penanaman chip pelacak lewat program vaksinasi. Namun teori ini jelas sudah dibantah pihak-pihak terkait.

Namun rencana yang disampaikan tim Pentagon Amerika Serikat ini seolah hendak mewujudkan teori konspirasi yang ada. Pasalnya tim riset Pentagon, DARPA, tengah mengembangkan microchip untuk ditanam demi mendeteksi COVID-19 secara berkala.

Tapi, jangan terlalu khawatir. Sebab menurut Kolonel Purnawirawan Matt Hepburn, teknologi yang dikembangkan DARPA ini rencananya ditujukan untuk kebutuhan militer, spesifiknya bagi pelaut.

Nantinya microchip ini akan ditanamkan di bawah kulit tubuh. Berwujud gel yang menyerupai jaringan tubuh, microchip ini akan menunjukkan sinyal jika tubuh pemakainya berpotensi mengembangkan gejala COVID-19 sehingga yang bersangkutan bisa segera diperiksa sebelum terlambat.


"Kita bisa mendapat informasi ini dalam 3 sampai 5 menit," kata Hepburn di program "60 Minutes" di CBS News, Minggu (11/4). "Kalau Anda bisa memotong waktu, Anda segera mendiagnosis dan mengobati, maka infeksi bisa segera dihentikan."

Hepburn sendiri menilai microchip ini bisa dipakai untuk memonitor kondisi kesehatan para pelaut yang sulit menjangkau layanan medis. Penanaman microchip ini dipastikan tidak bisa melacak pergerakan individunya dan saat ini sedang dalam tahap akhir pengembangan.

Pengembangan microchip di AS memang cenderung sudah maju. Dikembangkan sejak 2004, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) sudah menyetujui penggunaan alat identifikasi dengan frekuensi radio (RFID) yang dirancang untuk memonitor kondisi kesehatan pemakainya.

Namun pengembangan microchip ini jelas tak lepas dari kontroversi. Sebab banyak pihak merasa khawatir privasi terganggu hingga bisa dikendalikan pihak-pihak tertentu dengan penanaman alat tersebut.

DARPA sendiri sudah berpengalaman mengembangkan alat-alat demi membantu pengendalian wabah COVID-19. Termasuk mengembangkan filter alias penyaring yang khusus dipasang di alat pencuci darah untuk penyandang gagal ginjal yang juga terinfeksi virus Corona.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts