Kata Pokja KIPI Sukabumi Soal Isu Guru Lumpuh Usai Terima Suntikan Vaksinasi COVID-19 Kedua
Unsplash/National Cancer Institute
Nasional
Vaksin COVID-19

Guru SMA tersebut dilaporkan menerima suntikan kedua vaksinasi virus corona (COVID-19) pada 31 Maret 2021 lalu. Kala itu, ia merasa sesak, tangannya kaku, dan penglihatannya kabur.

WowKeren - Seorang guru SMA bernama Susan di Sukabumi, Jawa Barat, disebut mengalami kelumpuhan setelah mendapat suntikan vaksinasi COVID-19 kedua. Susan disebut masih kesulitan berjalan dan penglihatannya terganggu hingga kini.

Menanggapi hal ini, Pokja Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Kabupaten Sukabumi pun buka suara. Ketua Pokja KIPI Sukabumi, Eni Haryati, melalui Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Andi Rahman menyampaikan bahwa kasus ini sudah dalam penanganan pihak KIPI.

"Kasusnya sudah di tangani oleh para ahli di RSHS. Apakah penyakit yang sekarang diderita oleh ibu Susan berhubungan dengan vaksin atau tidak, masih dalam penelitian atau investigasi para ahli di KOMDA KIPI Jawa Barat maupun KOMNAS KIPI," jelas Andi. "Kalau sudah ada hasil akhir dari investigasi Insya Allah akan ada pemberitahuan, bisa berupa jumpa pers ataupun pers realease."

Menurut Andi, Pokja KIPI tidak dapat memberikan keterangan apakah kasus Susan ini berkaitan dengan vaksin atau tidak. Namun ia juga membantah anggapan bahwa pihaknya melakukan pembiaran.

"Kami di pokja KIPI tidak berwenang memberi keterangan apakah ini berhubungan dengan vaksin atau tidak, karena kewenangan kami hanya sampai penatalaksanaan kasus sesuai kemampuan sarana yang ada di RS Kabupaten Sukabumi. Dan pelajaran, kewenangan investigasi ada di KOMDA dan KOMNAS KIPI," tegasnya. "Supaya paham kita tidak ada pembiaran, apakah KIPI atau tidak oleh ahli yang menjawab bukan kita. Sisa vaksin ini kan, vaksin untuk 10 orang 1 vialnya. Sisanya disuntikan yang lain (ternyata) tidak apa-apa kalau dari vaksin semuanya ikutan dong."


Di sisi lain, adik Susan yang bernama Yayu mengungkapkan bahwa kakaknya menerima vaksinasi dosis kedua pada 31 Maret 2021 lalu. "Pertama setelah divaksin itu tangannya mengeluarkan darah agak banyak, tidak berhenti. Lalu pusing, mual, lemas. Terus disuruh istirahat dulu, didudukin di kursi. Itu masih di lokasi vaksin," ungkap Yayu kepada media CNN Indonesia, Kamis (29/4).

Kala itu, Susan merasa sesak, tangannya kaku, dan penglihatannya kabur. Oleh sebab itu, ia dibawa ke Rumah Sakit Palabuhanratu, Sukabumi.

Di rumah sakit, Susan didiagnosis memiliki autoimun. Ia kemudian dirujuk ke RSHS Bandung dan dirawat selama tiga pekan di rumah sakit tersebut.

"Keluar tanggal 23 (April). Sekarang sudah di rumah, tinggal rawat jalan saja seminggu sekali. Tapi kondisinya masih belum bisa melihat dan belum bisa jalan," terang Yayu. "(Pandangan) buram. Waktu di RSHS malah sempat blank (pandangannya)."

Lebih lanjut, Yayu mengungkapkan bahwa sang kakak hanya merasakan efek mual dan lemas kala menerima suntikan vaksinasi COVID-19 pertama. Selain itu, guru tersebut juga diklaim tidak memiliki penyakit bawaan.

"Vaksin pertama kata teteh ada efek, mual sama pusing, lemas," papar Yayu. "Cuma waktu screening sebelum vaksin kata petugasnya itu efek biasa. Emang ada efek itu."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts