Ketua Satgas COVID-19 Ingatkan Wajib Karantina Bila Terlanjur Mudik
Unsplash/Erik Mclean
Nasional
Mudik di Tengah Corona

Meski sudah ada larangan dan penyekatan, masih ada sejumlah warga Indonesia yang nekat mudik atau telah terlanjur kembali ke kampung halaman. Doni Monardo pun memberi arahan seperti ini.

WowKeren - Pemerintah sudah menerapkan larangan mudik 6-17 Mei 2021. Aparat gabungan pun diterjunkan untuk menyekat di beberapa titik demi menghalau para pemudik nekat.

Namun bagaimana jika ada yang sudah terlanjur mudik atau bahkan lolos dari cegatan aparat tersebut? Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Doni Monardo hanya mengingatkan, bagi mereka yang terlanjur mudik wajib untuk melakukan karantina.

"Kalau terlanjur sudah mudik, tidak ada pilihan lain, wajib karantina," tegas Doni ketika meninjau Pelabuhan Merak, Banten, Minggu (9/5). "Apa pun alasannya, wajib karantina."

Kewajiban ini, tutur Doni, semata-mata demi mencegah penyebaran COVID-19 agar Indonesia tidak berhadapan dengan tsunami seperti di India. Pasalnya perjalanan antardaerah sangat berisiko membawa virus Corona yang selanjutnya bisa menular ke keluarga atau bahkan kampung halaman.

"Karena bisa jadi mereka orang tanpa gejala. Dan kalau ini dibiarkan, maka yang datang bisa menulari satu kampung," tutur Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana tersebut, dikutip pada Senin (10/5). "Dan terbukti di beberapa tempat sudah ada kasus."


Menurut Doni, ada 7 persen warga Indonesia yang nekat mudik meski sudah dilarang pemerintah. Karena itulah, kembali Doni mengingatkan kepada pemangku kebijakan agar aktif mengedukasi masyarakat supaya mengurungkan niat untuk kembali ke kampung halaman.

"Setiap jam, setiap menit, setiap detik, mengingatkan. Jangan ada pergerakan orang, karena COVID-19 ini ditulari oleh manusia," papar Doni. "Kita berpotensi saling menulari."

Ia mengajak publik untuk bercermin pada krisis kesehatan besar yang tengah terjadi di India saat ini. Sebab pada awal-awal 2021 kemarin, kasus aktif di India bahkan lebih rendah daripada Indonesia yang mencapai 176 ribu.

"Tetapi setelah mereka melonggarkan aktivitas kegiatan keagamaan, olahraga, kegiatan politik, hiburan, dan acara-acara tradisi, tak perlu menunggu dua bulan, hanya dalam waktu beberapa minggu seluruh kasus aktif meningkat," jelas Doni. "Angka kematian pun tertinggi di dunia hari ini."

"Jangan sampai kita mengalami seperti itu," pungkas Doni. Karena itulah, kembali ia menegaskan bahwa kebijakan larangan mudik adalah semata demi mencegah penyebaran wabah.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts