Sekolah Ungkap Kekhawatiran Jika Pembelajaran Tatap Muka Hanya 2 Jam Per Hari
Nasional
Sekolah di Tengah Corona

Sebagai informasi, pembelajaran tatap muka (PTM) akan kembali diberlakukan secara terbatas mulai tahun ajaran baru 2021/2022 pada bulan Juli mendatang.

WowKeren - Presiden Joko Widodo disebut meminta agar pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas hanya dilakukan maksimal dua jam per hari, dan dua hari dalam seminggu. Diketahui, PTM terbatas akan diberlakukan mulai tahun ajaran baru 2021/2022 pada bulan Juli mendatang.

Pihak sekolah pun menyuarakan kendala yang dapat dihadapi jika PTM terbatas hanya digelar dua jam per hari. SMA Negeri 3 Kabupaten Seluma, Bengkulu, misalnya, telah melaksanakan PTM selama empat jam per hari secara selang-seling sejak Januari 2021 lalu.

Menurut Kepala SMAN 3 Seluma, Nihan, jadwal PTM empat jam per hari selama dua hingga tiga kali seminggu saja telah memangkas banyak materi pembelajaran. Apabila PTM hanya dilakukan dua jam per hari, maka ia ragu pembelajaran dapat dilakukan dengan baik.

"Keterbatasan waktu itu membuat materi jadi enggak kekejar," ujar Nihan kepada CNN Indonesia, Selasa (8/6). "Sekarang saja sudah ada bahasan-bahasan yang mau tidak mau harus ditinggalkan."

Hal senada juga disampaikan oleh Soha, seorang guru di SMA Negeri 1 Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue, Aceh. Menurut Soha, sekolahnya telah membuka PTM sepenuhnya sejak September 2020 hingga pertengahan Mei 2021. Namun peningkatan kasus COVID-19 membuat pembelajaran di SMAN 1 Teupah Selatan dilakukan secara kombinasi antara online dan tatap muka.


Menurutnya, PTM kini hanya dilakukan dalam waktu singkat beberapa kali seminggu. Karena keterbatasan waktu tersebut, PTM hanya digunakan guru untuk memberi soal secara fisik kepada siswa.

"Pembelajaran pasti masih bertumpu pada pemberian tugas. Kalau penjelasan hanya via WA atau telegram," paparnya. "Kalau tatap muka karena dibatasi, jadi kita enggak mau sembrono. Kita jaga-jaga untuk kesehatan."

Lebih lanjut, Soha mengaku dapat memahami pembatasan waktu PTM dilakukan untuk meminimalisir bahaya virus corona (COVID-19). Namun kebijakan tersebut dinilai tak efektif bagi pembelajaran.

"Tapi kita sebagai guru kan mengikuti kebijakan yang dilakukan pemerintah. Otomatis kita sesuaikan dengan strategi yang dilakukan guru," pungkasnya.

sekolahnya tak dapat menerapkan pembelajaran campuran antara online dan tatap muka karena kendala sulit sinyal. Dengan demikian, pembelajaran dilakukan tatap muka sepenuhnya atau dengan pemberian tugas.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts