Pengamat Sebut Ada Sejumlah Faktor Penyebab Jokowi-Ma'ruf Kalah Telak di Sumbar
Nasional

Dalam hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei, pasangan Jokowi-Ma'ruf hanya mampu meraup suara sebanyak 15-16 persen sedangkan Prabowo-Sandiaga unggul di angka 84 persen.

WowKeren - Hasil hitung cepat perolehan suara di Sumatera Barat menunjukkan bahwa Paslon Joko Widodo-Ma'ruf Amin kalah telak dari Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Berdasarkan hasil hitung sejumlah lembaga survei, Jokowi-Ma'ruf hanya mampu meraup sekitar 15-16 persen. Sedangkan penantangnya, Prabowo-Sandiaga, jauh unggul di angka 84 persen.

Seorang pengamat politik Universitas Andalas Padang Edi Indrizal menganggap kekalahan Jokowi di Sumbar disebabkan karena sejumlah faktor. Seperti faktor ideologi, sosiologi, hingga kultural, yang mana kesemuanya ini saling terikat dan membentuk perilaku kolektif masyarakat.


"Jadi semua faktor tersebut saling terkait satu sama lain," kata Edi dilansir dari Antara, Rabu (23/4). "Sehingga membentuk perilaku kolektif masyarakat dalam memilih."

Padahal sebelum Pilpres digelar ada 12 kepala daerah yang menyampaikan deklarasi terbuka untuk mendukung Jokowi-Ma'ruf. Namun nyatanya hal itu tak serta merta mampu mendulang suara untuk Paslon 01. "Yang terjadi bukannya suara semakin bertambah malah lebih turun dibanding Pemilu Presiden 2014," tutur Edi.

Dengan kata lain, strategi yang dipakai oleh Timses untuk memenangkan Jokowi masih belum bisa menjawab persoalan tersebut. Sementara itu seperti diketahui, PDIP merupakan partai pengusung Jokowi. Menurut Edi, partai ini sedari awal memang sulit mendapatkan tempat di hati masyarakat.

Terkait hal ini, Sekretaris Tim kampanye Nasional (TKN) Hasto Kristiyanto ikut angkat bicara bicara. Ia mengakui bahwa suara PDIP tertinggal jauh namun ia yakin bahwa peta politik akan berubah seiring berjalannya waktu.

"Sebab masyarakat Sumbar itu sebenarnya open mind, melahirkan banyak pahlawan nasional, dan cendekiawan berpikiran kebangsaan dengan tradisi ke-Islam-an yang kuat dan berkemajuan," tutur Hasto dalam keterangannya, Minggu (21/4). "Apa yang terjadi merupakan proses dialektis sebagai bagian pendidikan politik rakyat."

Meski demikian, Sekjen PDIP tersebut menghargai pilihan rakyat Sumbar. Menurutnya, justru perbedaan seperti inilah yang akan memberikan warna pada pelaksanaan demokrasi.

"Anggap saja selama kampanye yang lalu, adanya awan yang menutupi, membuat PDI Perjuangan belum masuk ke hati dan pikiran masyarakat Sumbar," imbuh Hasto. "Kami hormati keputusan mereka. Inilah indahnya demokrasi."

You can share this post!

Related Posts
Loading...