Gagal Deteksi Corona, Spanyol Bakal Kembalikan Alat Rapid Test ke Tiongkok
Dunia
Pandemi Virus Corona

Kesalahan ini diketahui setelah Spanyol menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus outbreak terburuk di dunia dengan jumlah kematian hanya satu tingkat berada di bawah Italia.

WowKeren - Spanyol menjadi salah satu negara di Eropa yang memiliki jumlah kasus corona (COVID-19) tertinggi setelah Italia. Hingga berita ini dibuat tercacat kasus positif corona di negara tersebut tembus 65.719 dengan total kematian sebanyak 5.138.

Ahli mikrobiologi Spanyol menyebut alat periksa cepat rapid test yang mereka beli dari Tiongkok rupanya tidak konsisten dalam mendeteksi virus corona. Kesalahan ini diketahui setelah Spanyol menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus outbreak terburuk di dunia dengan jumlah kematian hanya satu tingkat berada di bawah Italia.


Dilansir dari Business Insider, studi yang dilakukan terhadap tes yang dilakukan di negara itu, menunjukkan jika alat rapid test buatan Tiongkok hanya memiliki sensitivitas sebesar 30 persen.

Sebuah sumber mengungkapkan pada media surat kabar setempat El Pais, bahwa seharusnya alat tes memiliki tingkat sensitivitas lebih dari 80 persen. Bahkan untuk sekelas influenza saja, sensitivitas tes harus memiliki sensitivitas 80 persen.

Oleh sebab itu, banyak yang mendesak Pusat Mikrobiologi Klinis Spanyol untuk tidak merekomendasikan rapid test dipakai oleh masyarakat dalam mendeteksi virus. Sebagai gantinya, petugas medis harus menggunakan cara lain yang lebih kredibel untuk memberikan hasil yang lebih akurat.

Sementara itu, Direktur Pusat Koordinasi Darurat Kesehatan Spanyol Fernando Simon menyatakan jika negara tersebut telah melakukan 9.000 tes dengan hasil yang tidak konsisten. Oleh sebab itu, negara tersebut memutuskan akan mengembalikannya.

"Spanyol mendapat sejumlah rute pemasok dan penyedia. Yang pertama mengirim sebanyak 9.000 tes yang sudah divalidasi oleh Pusat Epidemiologi Nasional dan beberapa rumah sakit (di Madrid)," kata Simon dilansir Euractiv, Sabtu (28/3). "Namun, spesifikasinya tidak sesuai dengan sertifikasi kualitas yang menyertainya, yang berarti alat-alat itu harus dikembalikan."

Sementara itu, Kedutaan Tiongkok menyatakan jika pemerintah Spanyol membeli alat tersebut dari perusahaan bernama Shenzhen Bioeasy Biotechnology. Yang mana, perusahaan itu tidak memiliki lisensi.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts