Orang Bertubuh Tinggi Ternyata Lebih Berisiko Tertular COVID-19, Begini Penjelasannya
Shutterstock/Stanislav Fridkin
Health
Pandemi Virus Corona

Peneliti dari Universitas Manchester mendapati orang-orang bertubuh tinggi ternyata sangat berisiko tertular COVID-19. Hal ini tak lepas dari pola penularan virus melalui aerosol.

WowKeren - Para ilmuwan terus berusaha untuk mengungkap fakta-fakta tersembunyi soal COVID-19. Yang terbaru, peneliti kembali menemukan golongan individu yang lebih berisiko tertular infeksi saluran pernapasan ini, yang menariknya kali ini ditentukan dari tinggi badan!

Para peneliti dari Universitas Manchester mengungkap bahwa orang dengan tinggi badan lebih dari 180 cm atau 6 kaki ternyata berisiko lebih besar tertular COVID-19. Tak main-main, risikonya bahkan mencapai 2 kali lipat lebih besar.


Dalam studi tersebut, para peneliti melakukan penelitian terhadap 200 orang di Inggris dan Amerika Serikat. Dan dari penelitian itu mereka juga mengonfirmasi bahwa penularan COVID-19 dengan aerosol sangat mungkin terjadi.

Penularan dengan aerosol inilah yang kemudian menjadi masalah bagi orang-orang bertubuh tinggi. Pasalnya aerosol merupakan wujud yang sangat ringan dan bisa berterbangan di udara, sehingga mudah menjangkau orang-orang bertubuh tinggi.

Hal ini berbeda dengan penularan lewat droplet atau cairan tubuh. Sebab virus yang keluar dari tubuh penderita sebagai droplet akan segera jatuh ke permukaan karena ukuran yang berat sehingga tidak sempat terjangkau oleh orang bertubuh tinggi.

"Hasil survei ini hanya mengenai hubungan antara tinggi badan dan diagnosis virus Corona," kata Profesor Evan Kontopantelis selaku salah satu peneliti riset tersebut, dilansir dari Mirror UK, Rabu (29/7). "Yang menunjukkan bahwa ada kemungkinan penularan melalui aerosol."

Situasi ini menunjukkan bahwa jaga jarak tak cukup untuk meminimalisir penularan COVID-19. Setiap individu harus membekali diri mereka dengan perlindungan ekstra termasuk dengan menggunakan masker demi mencegah aerosol atau droplet dari individu terinfeksi SARS-CoV-2 tertular.

Namun selain itu, Kontopantelis juga menyarankan agar dilakukan pembersihan udara khususnya di ruangan tertutup. "Tapi, pemurnian udara di ruang tertutup harus dipertimbangkan lebih lanjut," pungkasnya.

Penelitian ini juga mengungkapkan beberapa gaya hidup lain yang bisa meningkatkan peluang tertular COVID-19. Seperti misalnya orang-orang yang menggunakan dapur bersama atau transportasi umum memiliki risiko sampai 3,5 kali lebih besar untuk tertular COVID-19.

Penelitian ini sendiri digelar karena sekarang banyak negara yang sudah kembali membuka aktivitas perekonomiannya meski pandemi belum terkendali. Sehingga setiap orang wajib memahami faktor pribadi apa saja yang bisa menjadi prediktor atau pemicu transmisi COVID-19.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts