Vaksin Diyakini Tak Bisa Hadang Mutasi Corona Dari Inggris, Ahli Ungkap Alasannya
Health
Vaksin COVID-19

Mutasi virus corona baru dari Inggris telah membuat waspada dunia. Meski vaksin mulai tersedia, namun ahli tidak yakin vaksin mempan hadang mutasi yang menyebar sangat cepat itu.

WowKeren - Munculnya mutasi virus corona baru dari Inggris yang disebut menular lebih cepat telah membuat dunia waspada. Meski sejumlah negara telah mendapatkan angin segar berkat kesiapan vaksin, namun para ahli meragukan vaksin sanggup menghadang mutasi COVID-19 dari Inggris.

Ilmuwan Inggris khawatir fungsi vaksin yang sudah ditemukan tak mempan terhadap mutasi virus corona baru yang ditemukan di Inggris hingga Afrika Selatan. Pasalnya, telah terjadi perubahan yang lebih ekstensif pada bagian tertentu (protein spike) pada virus. Protein spike sendiri adalah bagian virus yang digunakan untuk menginfeksi sel manusia.

Ahli menjelaskan varian baru tersebut memiliki muatan viral yang lebih tinggi dari virus corona yang beredar sebelumnya. Artinya, konsentrasi partikel virus di tubuh pasien lebih banyak dan menyebabkan COVID-19 semakin menular. Karena itu, vaksin virus corona dinilai tidak cukup mempan dalam menangkal mutasi baru tersebut.

"Akumulasi lebih banyak mutasi lonjakan pada varian Afrika Selatan lebih mengkhawatirkan dan dapat menyebabkan beberapa kemunculan dari perlindungan kekebalan, " ujar Lawrence Young, ahli virologi dan profesor onkologi molekuler Universitas Warwick.


Sementara itu, CEO produsen vaksin BioNtech Ugur Sahin dan John Bell menjelaskan pihaknya sedang menguji apakah vaksin buatannya ampuh menghadapi mutasi varian baru virus corona. Targetnya, penelitian ini akan selesai dalam waktu kurang lebih enam minggu.

Kementerian Kesehatan Inggris juga belum bisa memastikan apakah vaksin virus corona sanggup menangkal mutasi baru COVID-19 atau tidak. Kendati demikian, vaksin sudah mulai mendistribusikan kepada masyarakat di beberapa negara untuk menuntaskan sebaran virus yang hampir menewaskan 1,8 juta orang di dunia.

Berdasarkan laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), saat ini sudah ada kurang lebih 60 kandidat vaksin yang tengah menjalani uji klinis. Beberapa vaksin telah diluncurkan dan sudah banyak dipesan beberapa negara, seperti AstraZeneca dan Oxford, Pfizer dan BioNTech, Moderna, Sputnik V Rusia, dan Sinopharm Tiongkok.

Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock sebelumnya sempat menyatakan kekhawatiran soal varian baru virus corona yang diidentifikasi di Afrika Selatan. Menurutnya, perubahan protein spike virus pada varian baru yang sudah bermutasi itu semakin mengkhawatirkan karena membuat virus lebih kebal terhadap keampuhan vaksin.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts