Pandemic Fatigue Sampai Denial Jadi Penyebab Naiknya COVID-19 RI, Ini Penjelasannya
Pixabay/Thiago Lazarino
Health
COVID-19 di Indonesia

Pandemic fatigue dan denial alias menolak bahwa COVID-19 masih ada menjadi alasan utama wabah infeksi virus Corona di Indonesia kembali melonjak.

WowKeren - Sejumlah daerah Indonesia dibayangi dengan lonjakan besar kasus COVID-19. Sebut saja titik panas pandemi yang mengkhawatirkan di Kudus (Jawa Tengah) dan Bangkalan (Madura, Jawa Timur).

Ahli penyakit dalam dr. Decsa Medika Hertanto, SpPD menerangkan sejumlah penyebab di balik "ledakan" yang terjadi. Namun yang paling utama adalah pandemic fatigue alias kelelahan karena terus di tengah ketidakpastian soal kapan pandemi akan berakhir.

"Masyarakat ini sudah lelah dalam kondisi pandemi. Kemudian kita juga masuk sosial, jadi ada keinginan untuk bersosialisasi. Dan saat bersosialisasi lupa menjalankan prokes," tutur Desca kepada Basra jaringan Kumparan, Rabu (9/6).

"Seperti diketahui di beberapa daerah, di video-video viral banyak orang sudah tidak pakai masker," imbuh Desca. "Padahal di prokes, masker merupakan poin utama."

Bukan hanya pandemic fatigue, denial alias perasaan menolak atas kondisi pandemi yang belum berakhir juga menjadi penyebab turunnya kewaspadaan. "Jadi menganggap COVID-19 ini nggak ada, dan itu terus digaungkan dan risikonya beragam. Itu yang terjadi di masyarakat," terang Desca.


Padahal, seperti diketahui, Indonesia kini malah tengah dihadapkan dengan masuknya mutasi-mutasi virus Corona. "Dan memang beberapa mutasi virus itu lebih mudah menular, dan lebih mudah menimbulkan komplikasi yang lebih berat dibanding virus terdahulunya," jelasnya menegaskna.

Selayaknya ahli wabah dan kesehatan lainnya, Desca juga tidak bisa memberi jawaban spesifik soal apakah Indonesia tengah berada di gelombang dua pandemi atau tidak. Meski ia tak menampik tengah terjadi kenaikan tren kasus positif, terutama pasca libur Lebaran.

"Gelombang pertama pun kita belum landai dan sekarang naik lagi. Kita nggak bisa menyebut ini gelombang dua atau bagaimana," katanya, yang seharusnya meningkatkan kewaspadaan karena beberapa fasilitas kesehatan pun mulai kolaps.

Oleh karena itu, Desca kembali mengingatkan masyarakat untuk lebih menjaga diri serta tentu saja menerapkan protokol kesehatan. "Prokes saja sudah cukup jika dijalankan bersama dan serentak," tegasnya.

"Tapi kalau ada yang menjalankan dan ada yang tidak, nah itu yang menjadi masalah," pungkasnya. "Karena mutasi itu terbentuk ya karena kita sendiri memberikan wadah, memberikan kesempatan pada virus untuk bermutasi."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts