Lumpur di Surabaya Masih Menyembur, Walkot Risma Janji Terus Pantau
Nasional

Menurut Risma, kejadian semacam ini pernah terjadi sebelumnya lantaran ada beberapa bekas sumur pengeboran minyak di Surabaya. Namun biasanya semburan akan berhenti dalam jangka waktu sepuluh hari.

WowKeren - Kejadian menghebohkan tengah terjadi di pekarangan sebuah rumah di Jalan Kutisari Indah Utara, Surabaya, Jawa Timur. Sejak Senin (23/9) siang lalu, lumpur berbau gas belerang dan bercampur minyak itu terus menyembur.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini pun buka suara. Dalam pernyataannya, Risma mengaku bahwa kejadian semacam ini bukanlah yang pertama kali terjadi di Kota Pahlawan.

Kendati demikian, menurut Risma, lumpur yang disemburkan dari kejadian-kejadian serupa biasanya berhenti dalam jangka sepuluh hari. Namun, seperti diketahui, semburan lumpur di Kutisari sudah berjalan lebih dari dua minggu. Oleh karena itulah, Risma berjanji akan terus memantau perkembangan di lokasi.

"Nanti kita lihat perkembangannya. Dulu juga pernah kejadian, tapi sepuluh hari sudah berhenti. Nah, terus baru tahun ini keluar lagi," kata Risma ketika dijumpai di rumah dinasnya pada Selasa (8/10) siang. "Sebenarnya saya sempat terpikir kalau bisa memaksimalkan hasil semburan minyak dan gas."

Lebih lanjut, Risma pun mengaku telah menerjunkan tim geologi untuk mengkaji peristiwa tersebut. Menurut hasil penelitian, rupanya lokasi di Kutisari tersebut merupakan bekas sumur pengeboran minyak dan gas pada era penjajahan Belanda.


Menariknya, lokasi semacam itu tak hanya ditemui di Kutisari. Ternyata di beberapa wilayah Surabaya juga banyak ditemui bekas sumur serupa.

"Sebetulnya kalau mau, Surabaya ini kaya (gas alam), cuma kan masalahnya sudah padat (permukiman) penduduk," jelas Risma seperti dilansir oleh Suara. "Ini (Surabaya) sebetulnya banyak minyaknya."

Informasi ini, tutur Risma, bisa dibuktikan kebenarannya, sebab kenyataannya tanaman di Surabaya tergolong sulit untuk tumbuh dan berkembang. Namun hal itu bisa diatasi dengan penambahan pupuk dan vitamin.

"Coba lihat tanaman di Surabaya itu tidak mudah tumbuh. Bisa tumbuh karena diberikan pupuk, vitamin dan lain-lain," pungkas Risma. "Tapi di daerah lain ditanam begitu saja bisa tumbuh. Karena di Surabaya ini bawahnya (tanah) macam-macam."

Di sisi lain, masalah limbah yang dihasilkan dari peristiwa ini masih menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah setempat. Kasi Pemantauan dan Pengendalian Kualitas Lingkungan Hidup dari Dinas Lingkungan Hidup Surabaya, Ulfiani Ekasari, mengaku pihaknya masih kesulitan mencari lokasi untuk membuang limbah B3 tersebut.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts